Baca juga:
➡️ Krisis Rusia makin memburuk : Antrian BBM, ekonomi stagnan hingga pengusaha bagkrut
➡️ 10 Tahun di penjara ulama Arab saudi Abdul aziz al-tarifi dituntut hukuman mati
*MOSKOW* - Pemerintah Rusia mengambil langkah drastis untuk menekan tekanan fiskal. Sebagian besar pos belanja nonmiliter dipangkas hingga 35% dan sejumlah lembaga federal diminta mengurangi jumlah pegawai hingga 15%. Kebijakan ini ditempuh di tengah membengkaknya biaya perang yang membuat defisit anggaran negara terus melebar.
Keputusan penghematan itu menjadi bagian dari upaya Kremlin meredam tekanan anggaran yang semakin berat tahun ini. Berdasarkan data sistem Electronic Budget Rusia, defisit kumulatif anggaran sudah mencapai 6,5 triliun rubel atau setara 2,8% dari Produk Domestik Bruto pada akhir Juli 2026.
Angka itu terus naik. Per 24 Agustus, defisit kumulatif tercatat menembus 8,654 triliun rubel. Lonjakan cepat dalam waktu kurang dari sebulan menunjukkan betapa besar beban fiskal yang dihadapi pemerintah saat ini.
Penghematan Besar-besaran dan Efisiensi Pegawai
Dalam paket penghematan terbaru, pemerintah memangkas sekitar 35% dari sebagian besar belanja nonmiliter. Pos-pos yang terdampak meliputi belanja infrastruktur sipil, subsidi, pendidikan, kesehatan, hingga program sosial lainnya.
Selain pemotongan anggaran, pemerintah juga meminta sejumlah lembaga federal untuk menyiapkan skenario pengurangan jumlah pegawai hingga 15%. Langkah ini bertujuan memangkas beban belanja pegawai negara yang selama ini menjadi salah satu komponen besar dalam APBN Rusia.
Langkah efisiensi ini menandakan pergeseran prioritas anggaran. Sumber daya negara kini lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan militer dan keamanan, sementara belanja untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat harus ditahan.
➡️ Berita tentang teknologi kini dan masa depan
➡️ Karya sastra dalam bentuk puisi-puisi indah
➡️ Tips dan trik membuat artikel versi USA friendly
Tekanan dari Sektor Energi-
Di sisi penerimaan, pemerintah Rusia juga menghadapi tantangan serius. Sektor energi yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan negara kini tidak lagi sekuat dulu.
Penurunan harga minyak global, sanksi internasional, dan pembatasan ekspor membuat pemasukan dari migas dan gas alam turun. Padahal, pendapatan energi biasanya menutupi sebagian besar kebutuhan belanja negara, termasuk saat pengeluaran militer meningkat.
Kombinasi antara pengeluaran yang membengkak dan penerimaan yang seret membuat defisit semakin sulit dikendalikan. Tanpa penyesuaian besar, pemerintah diprediksi akan terus mengandalkan cadangan dana dan penerbitan utang untuk menutup kekurangan anggaran.
Dampak ke Depan
Pemangkasan 35% belanja nonmiliter dan rencana pengurangan pegawai 15% diperkirakan akan berdampak langsung ke program-program publik. Analis menilai, jika kondisi perang dan tekanan fiskal berlanjut, pemerintah mungkin akan melakukan putaran pemotongan lanjutan pada 2027.
Untuk saat ini, prioritas utama Moskow jelas: menjaga stabilitas keuangan negara sambil memastikan kebutuhan operasi militer tetap terpenuhi. Namun dengan defisit yang sudah melewati 8,6 triliun rubel, ruang manuver fiskal Rusia semakin sempit.
---












0 Comments:
Posting Komentar